https://tabloiddiksi.com

  • Hukum
  • Sorotan
  • Peristiwa
  • Pemerintah
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Siak
    • Kampar
    • Kuansing
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kepulauan Meranti
    • Pelalawan
    • Kepulauan Riau
  • Parlementaria
  • Sport
  • Video TV
  • Artikel
  • TNI Polri
  • Lainnya
    • Politik
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekbis
    • Advertorial
    • Diksi E-Paper

  • Kode Pers
  • Info Iklan
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://tabloiddiksi.com

Redaksi     Pedoman     Tentang     Info Iklan     Kode Pers    

https://tabloiddiksi.com

  • Beranda
  • ";
  • Hukum
  • Sorotan
  • Peristiwa
  • Pemerintah
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Siak
    • Kampar
    • Kuansing
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kepulauan Meranti
    • Pelalawan
    • Kepulauan Riau
  • Parlementaria
  • Sport
  • Video TV
  • Artikel
  • TNI Polri
  • Lainnya
    • Politik
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekbis
    • Advertorial
    • Diksi E-Paper

Beranda

Terpopuler

Utama

Pilihan

Todays

•   Bupati Pimpin Musrenbang RKPD 2027: DPRD Kampar Tegaskan Eksekutif Akomodir Usulan di Dapil VI ! •   Kunjungan Perdana ke Desa Logas, Kapolres Kuansing Tinjau Pos Kamling, Tanam Pohon, dan Dialog dengan Tokoh Adat •   KNPI Riau Tolak Wacana Polri Masuk Kementerian, Ini Alasannya •   Tanah Ulayat Kenegerian Lubuk Agung 'Dijual': Ada Apa Ninik Mamak dan Kepala Desa IV Koto Setingkai?
Home › Sorotan › Suku Sakai, Penjaga Alam Riau Yang Tersingkirkan 
Sorotan

Eksplorasi Hutan Besar-besaran 

Suku Sakai, Penjaga Alam Riau Yang Tersingkirkan 

Minggu, 18 Juni 2023 | 23:25 WIB,  
Penulis : Rahmat Hidayat
Suku Sakai, Penjaga Alam Riau Yang Tersingkirkan 

Sekelompok adat Suku Sakai, perlahan seiring waktu keberadaan mereka diambang ketiadaan dan terancam hilang. .

Riau, Tabloid Diksi - Kapulauan Riau adalah salah satu kepulauan yang berada di Sumatera yang tidak bisa melepaskan diri dari perkembangan zaman. Sama seperti daerah lain yang ada di Indonesia, daerah- daerah yang berada di kepulauan Riau sangat rajin dalam mengembangkan diri untuk menyambut era globalisasi. Namun dibalik perkembangan menuju era globalisasi yang di tawarkan oleh dunia, terdapat suku asli Riau yang mulai tersingkir dan terancam hilang. Suku itu adalah suku Sakai.Suku Sakai, memiliki warna khas budaya kehidupan alam yang melekat sebagai identitas penjaga kelestarian alam. 

Nama Sakai memiliki arti seperti nama- nama lainnya yang ada. Arti dari nama Sakai adalah anak- anak yang hidup berada disekitar sungai. Arti nama Sakai ini mengacu kepada pola kehidupan suku Sakai yang nomaden atau berpindah- pindah dipedalaman hutan Riau. Dan karena air yang merupakan sumber kehidupan inilah yang menjadikan suku Sakai hidup dekat dengan sungai. Namun ada pula yang mengatakan bahwa nenek moyang dari suku Sakai berasal dari Pagaruyung yang merupakan kerajaan melayu yang pernah ada di Sumatera Barat.

  • Baca juga: KONTROVERSI Jalan Rusak: Intimidasi Warga, dan Pertanyaan Transparansi Dana Desa Kuntu Darussalam!! Apa Kabar Pak Bupati 'Kampar Dihati'?

Hidup di pedalaman, Suku Sakai adalah suku yang menggantungkan hidupnya kepada alam. Sehingga apapun yang mereka butuhkan, mereka selalu membuatnya dari bahan-bahan yang tersedia di alam. Salah satunya seperti Timo.

Timo merupakan alat tradisional yang dibuat oleh suku Sakai dari bahan-bahan yang ada di alam. Timo merupakan sejenis wadah yang terbuat dari kulit kerbau yang sudah dikeringkan yang biasa digunakan oleh suku Sakai untuk wadah menampung madu. Tidak hanya terbuat dari kulit kerbau, beberapa bagian dari Timo dibuat dari rotan. Seperti misalnya bagian sisi wadah yang diberi batas lingkaran yang terbuat dari rotan yang diberikan tali yang juga terbuat dari rotan.

Tidak hanya Timo alat yang dibuat dari alam, suku Sakai yang hidup dengan cara agraris atau bertani yang nomaden juga menciptakan alat pertanian yang disebut Gegalung Galo. Gegalung Galo adalah sejenis alat penjepit yang terbuat dari bambu dan batang pepohonan yang digunakan untuk menjepit ubi manggalo untuk kemudian diambil sari patinya. Biasanya, sebagai wadah untuk menampung sari pati ubi manggalo adalah Timo. Dan ubi manggalo adalah salah satu tanaman yang biasa ditanam oleh suku Sekai dalam kehidupan agrarisnya.

  • Baca juga: Kopdes Lipat Kain Selatan Hanya Angan-Angan, Kegagalan Pemdes?, PLT.Camat Kampar Kiri Buka Mata!

Tidak hanya alat-alat pertanian saja yang diciptakan oleh suku Sekai. Mereka juga mampu memproduksi pakaian dari bahan yang seluruhnya ada di alam. Biasanya bahan yang dijadikan sebagai baju adalah kulit pohon. Pakaian inilah yang kemudian melindungi tubuh orang- orang suku Sakai yang hidup secara nomaden.

Dalam kehidupan agrarisnya, suku Sakai tentu juga memiliki aturan tersendiri dalam kehidupan berladangnya. Seperti misalnya ketika pembukaan hutan untuk berladang. Suku Sakai terikat oleh hukum adat mereka yang mengatur kehidupan berladang mereka. Dan mereka juga meyakini jika peraturan tersebut dilanggar, maka tanaman yang ditanam kelak akan dirusak oleh hama atau hewan liar yang ada di hutan.

  • Baca juga: Resmi Mendaftar, Fauzan-Dion Siap Perjuangkan Hak-Hak Mahasiswa UNRI

Salah satu keyakinan yang masih melekat pada suku Sakai adalah keyakinan tentang Antu. Antu yang sejenis dengan hantu, menurut keyakinan mereka, adalah salah satu makhluk yang harus dihormati keberadaannya di hutan. Mereka meyakini bahwa hantu hidup secara bergerombol di tengah hutan di tempat yang belum terjamah oleh manusia. 

Walaupun banyak orang- orang dari suku Sakai yang sudah menganut kepercayaan mainstream seperti islam dan Kristen, keyakinan animisme ini masih diyakini dengan kuat. Seperti misalnya jika mereka gagal dalam bertani yang mereka yakini disebabkan oleh Antu yang mengganggu mereka karena mereka tidak mengikuti aturan adat.

  • Baca juga: Sungai Setingkai dan Subayang Masih Terancam Aktivitas Tambang Emas Ilegal

Namun kini kehidupan suku Sakai sudah sangat terancam. Menjalani kehidupan yang bergantung seluruhnya dari alam menjadikan suku Sakai mulai tersingkirkan. Adanya anggapan bahwa suku Sakai hidup di daerah yang kaya akan minyak, pembukaan hutan didaerah pedalaman Riau pun banyak mengalami pembukaan lahan. Banyak pohon-pohon besar yang ditebang dan hutan mengalami eksplorasi secara berlebihan dan besar-besaran sehingga kehidupan suku Sakai perlahan tersingkir.Eksplorasi hutan besar-besaran tanpa batas menjadi kenyataan pahit yang dialami Suku Sakai. 

Dapat dikatakan bahwa suku Sakai adalah suku penjaga hutan. Hal ini mangacu kepada pola kehidupan suku Sakai yang selalu menjaga keberlangsungan ekosistem alam yang ada di hutan. Aturan adat yang mengikat mereka serta keyakinan mereka terhadap Antu menjadikan mereka tidak bisa melakukan sesuatu merusak alam. 

  • Baca juga: Heboh, Spanduk Bertuliskan Evaluasi Kapolda Riau Terpasang Di JPO Depan Kantor DPRD Provinsi Riau 

Tapi seiring berjalannya waktu, kepercayaan animisme yang diyakini suku Sakai dan masyarakat di Indonesia pada umumnya mulai hilang. Hal inipun mengakibatkan banyak pula keyakinan akan pantangan- pantangan atau keyakinan lain yang pernah ada juga mulai hilang dan mengakibatkan rasa khawatir karena lalai menjaga alampun mulai hilang.

Banyak yang mengatakan bahwa alasan dari terancam punahnya suku Sakai di Riau adalah karena pengetahuan mereka terhadap kemajuan sangat rendah sehingga dianggap remeh. Karena itulah mereka sering dianggap bukanlah sebuah halangan untuk orang- orang yang berfikir tentang kemajuan untuk mengeksplorasi alam. Walaupun sebenarnya suku Sakai adalah salah satu suku yang kebudayaannya menjadi salah satu penyumbang kebudayaan modern yang saat ini ada. Karena Suku Sakai yang ada dipedalaman hutan adalah suku yang mengajari kita untuk bersahabat dengan alam bukan untuk mengeksplorasi alam guna mencapai kepuasan sementara yang tidak kunjung ada batasnya.

  • Baca juga: Konflik Pegiat Lingkungan vs Oknum Perangkat Desa, Gelar Perkara Tersendat

Dari suku Sekai yang terancam punah inilah kita mendapatkan sedikit bukti bahwa kerusakan alam di Indonesia tidak hanya mempengaruhi ekosistem flora dan fauna, tapi juga mempengaruhi kehidupan budaya dan tradisi masyarakat yang ada didalamnya. Dan jika tradisi dan budaya tersebut rusak atau bahkan hilang karena eksplorasi alam yang berlebihan, maka dapat dipastikan Indonesia pun akan kehilangan budaya dan tradisi yang pernah membentuknya dahulu. Dari suku Sekai yang kini terancam punah kita bisa belajar, masih perlukah dilakukan eksplorasi alam secara berlebihan..?

Editor : R Hidayat

TOPIK TERKAIT

Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Hukrim

    Belum lama di Razia Tim Polres Kuansing, Aktivitas PETI kembali beroperasi di Pangen

    Minggu, 18 Jun 2023 | 22:37 WIB
  • Nasional

    Satu Alat Berat Sedang beroperasi di Desa Kebun lado, APH Mana Tanggapannya??

    Minggu, 18 Jun 2023 | 22:15 WIB
  • Pemerintah

    LIRA Dorong Generasi Emas 2045 ANTI-KORUPSI 

    Minggu, 18 Jun 2023 | 14:59 WIB
  • Sorotan

    Berikan Pelayanan Kepada Masyarakat, Satlantas Polres Kuansing Lakukan Patroli Blue Light

    Minggu, 18 Jun 2023 | 13:42 WIB
  • Pemerintah

    Respon Cepat Instruksi Bupati, PUPR Kuansing Eksekusi Jalan Rusak 

    Minggu, 18 Jun 2023 | 09:05 WIB

Terpopuler

  • #1

    Dr. H. Dianto Mampanini, SE., MT dan Pengurus DPW APWI Provinsi Riau Periode 2025–2029 Resmi Dilantik

    Kamis, 22 Jan 2026 - 15:33 WIB
  • #2

    Kegiatan Sosial Danyon A Pelopor Satbrimobda Riau di Masjid Siti Aminah: Contoh Kepedulian dan Inspirasi!

    Minggu, 25 Jan 2026 - 11:55 WIB
  • #3

    Tolak Tambang Batu Sungai Subayang Desa Padang Sawah

    Rabu, 21 Jan 2026 - 14:11 WIB
  • #4

    Isra Mi'raj di Kampar Kiri: Kapolsek Tekankan Keamanan dan Ketertiban

    Sabtu, 17 Jan 2026 - 22:34 WIB
  • #5

    Grebek Tambang Ilegal, TNI-Polri Sinergi !

    Sabtu, 17 Jan 2026 - 14:14 WIB

SOROTAN

  • Tanah Ulayat Kenegerian Lubuk Agung

    Tanah Ulayat Kenegerian Lubuk Agung 'Dijual': Ada Apa Ninik Mamak dan Kepala Desa IV Koto Setingkai?

    Rabu, 28 Jan 2026 | 13:36 WIB
  • Klarifikasi Kapolsek Kampar Kiri: Tak Ada Bekingan Untuk Galian C PT AWE Minerba

    Klarifikasi Kapolsek Kampar Kiri: Tak Ada Bekingan Untuk Galian C PT AWE Minerba

    Jumat, 23 Jan 2026 | 13:01 WIB
  • Pungli Berkedok Kerja, SOS Diduga Palak Calon Security PT.PSPI Distrik Lipat Kain! Diambang Malu?

    Pungli Berkedok Kerja, SOS Diduga Palak Calon Security PT.PSPI Distrik Lipat Kain! Diambang Malu?

    Senin, 19 Jan 2026 | 15:32 WIB

HUKRIM

  • Polsek Tambang Tangkap Pelaku Curanmor Yang Beraksi di 18 TKP!

    Polsek Tambang Tangkap Pelaku Curanmor Yang Beraksi di 18 TKP!

    Sabtu, 17 Jan 2026 | 14:22 WIB
  • Aktivitas PETI Masih Marak, Polres Kuansing Gagal Jaga Ekosistem Alam di Kuansing, Mahasiswa: “Kami Siapkan Laporan ke Propam”

    Aktivitas PETI Masih Marak, Polres Kuansing Gagal Jaga Ekosistem Alam di Kuansing, Mahasiswa: “Kami Siapkan Laporan ke Propam”

    Kamis, 15 Jan 2026 | 01:07 WIB
  • Tak Ada Ampun!!!, Polsek Kampar Kiri Tangkap Pelaku Narkoba di Desa Sungai Geringging 

    Tak Ada Ampun!!!, Polsek Kampar Kiri Tangkap Pelaku Narkoba di Desa Sungai Geringging 

    Rabu, 14 Jan 2026 | 15:09 WIB
    sudutkotanews.com



  • Kode Pers     Info Iklan     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    tabloidDIKSI.com