Home › Ekonomi › Hilirisasi Produk Hasil Perkebunan
Dongkrak Harga Komoditas di Riau StabilÂ
Hilirisasi Produk Hasil Perkebunan
Keterangan Foto: Sekretaris Komisi III DPRD Riau Sewitri Harris, menanggapi fluktuasi harga komoditi perkebunan mendorong terciptanya produk hilirisasi.
PEKANBARU, Tabloid Diksi - Sejumlah harga komoditas hasil perkebunan pekan ini diketahui mengalami fluktuasi. Hal itu berdampak terhadap ekonomi masyarakat dari kalangan petani. Dalam hal ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau mendorong agar hilirisasi produk turunan hasil perkebunan berkembang optimal.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Komisi III DPRD Riau Sewitri Harris yang membidangi dunia usaha dan penanaman modal.
- Baca juga:
Dikatakannya, salah satu penyebab harga jual hasil perkebunan tidak stabil karena minimnya produsen yang memeroduksi hasil perkebunan secara langsung. “Kebanyakan kan dikirim lagi keluar daerah. Maka ini perlu menjadi catatan bagi kita agar bisa menggaet investor sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan olahan produk turunan perkebunan,” terang Sewitri, Rabu (18/10/23).
Ia meyakini, hasil perkebunan Riau sangat sanggup untuk menampung kebutuhan produksi pabrik pengolahan produk turunan. Cukup beralasan, bila pabrik pengolah hilirisasi produk turunan perkebunan banyak terdapat di Riau, harga jual petani akan lebih stabil.
Di tempat terpisah, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Riau Defris Hatmaja menjelaskan, harga produk komoditi perkebunan di Provinsi Riau mengalami perubahan signifikan di beberapa wilayah.
Menurut data terbaru, harga kelapa butiran di Kabupaten Kuansing, Kampar, dan Kepulauan Meranti naik sebesar Rp12 per kilogram, mencapai Rp2.675 perkilogram untuk periode minggu ini.
Harga komoditi Kebun lainnya untuk pinang kering (100 persen) terjadi kenaikan harga di beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Kampar, Siak, Kuantan Singingi, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti dan Bengkalis. Harga pinang kering mencapai Rp5.850 perkilogram, mengalami kenaikan sebesar Rp10 dari harga minggu sebelumnya.
Perubahan harga ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk faktor cuaca, permintaan pasar, dan kondisi ekonomi regional.
“Sebagai hasil dari fluktuasi ini, para pelaku usaha perkebunan di Riau diharapkan untuk memantau perubahan harga dengan cermat guna mengambil keputusan yang tepat terkait pengolahan dan pemasaran produk mereka,” ujar Defris Hatmaja Kabid Pengolahan dan Pemasaran Disbun Riau.






Komentar Via Facebook :