Home › Peristiwa › 22 Negara Asia Pasifik Sepakat Perkuat SDM Kesehatan
22 Negara Asia Pasifik Sepakat Perkuat SDM Kesehatan
Keterangan Foto: Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yuli Farianti. MC Kemkes/TD-YS
BALI, Tabloid Diksi – Penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi salah satu agenda penting negara-negara Asia Pasifik dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Konferensi ke-14 Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) yang resmi ditutup di Bali, Rabu (4/11/2026).
Berdasarkan rilis resmi yang dipublikasikan melalui situs Kementerian Kesehatan RI, kemkes.go.id, Kamis (5/11/2026), konferensi yang diikuti delegasi dari 22 negara itu menegaskan pentingnya investasi SDM kesehatan sebagai fondasi transformasi dan penguatan sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik.
- Baca juga:
Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Yuli Farianti, mengatakan berbagai tantangan strategis, mulai dari penuaan populasi, meningkatnya penyakit kronis, perubahan iklim hingga ketimpangan distribusi tenaga medis, membutuhkan penanganan konkret dan terintegrasi.
Ia menyebutkan, rasio dokter di Indonesia masih berada pada angka 0,62 per 1.000 penduduk.
Menurut Yuli, penguatan SDM kesehatan tidak cukup hanya melalui penambahan jumlah tenaga kesehatan, tetapi juga harus disertai peningkatan kompetensi, pemerataan distribusi, serta lingkungan kerja yang aman dan mendukung kepastian karier.
"Memperkuat SDM kesehatan bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak tenaga kesehatan. Ini tentang kompetensi yang tepat, distribusi yang adil, serta lingkungan kerja yang membuat tenaga kesehatan merasa aman, dihargai, dan ingin bertahan," ujar Yuli.
Dalam konferensi tersebut, disepakati tiga pilar utama penguatan SDM kesehatan, yakni tata kelola, pendidikan dan kesejahteraan, serta transformasi digital.
Di Indonesia, penerapannya dilakukan melalui perencanaan kebutuhan tenaga medis berbasis data hingga 2032, percepatan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, serta penyederhanaan layanan administrasi melalui penerbitan STR seumur hidup pada platform SATUSEHAT SDMK.
Kemenkes juga menyediakan akses pelatihan daring bagi tenaga kesehatan melalui Plataran Sehat.
Para delegasi turut melihat penerapan kebijakan tersebut melalui kunjungan ke tiga fasilitas kesehatan di Bali, yakni RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Poltekkes Kemenkes Denpasar, dan Puskesmas Kuta II.
Di Puskesmas Kuta II, delegasi menyaksikan penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) berbasis siklus hidup. Fasilitas tersebut mencatat pengendalian 81 persen pasien hipertensi dan 79 persen pasien diabetes. Sementara capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencapai 101,6 persen atau menjangkau 5.708 orang.
Ketua AAAH periode 2024–2026, Anna Kurniati, mengapresiasi solidaritas negara-negara anggota serta dukungan mitra pembangunan internasional, seperti WHO, JICA, KOICA, ADB, UNFPA, dan IHPP Foundation.
Ia menegaskan, tantangan SDM kesehatan membutuhkan kerja sama lintas negara karena tidak mungkin diselesaikan secara mandiri oleh satu negara.
Seluruh rekomendasi Konferensi AAAH ke-14 selanjutnya akan menjadi rujukan strategis Indonesia dalam menyusun Blueprint Pengelolaan SDM Kesehatan 2026–2035. Penutupan konferensi sekaligus menandai penyerahan estafet penyelenggaraan konferensi berikutnya kepada Thailand.






Komentar Via Facebook :