Home › Politik › Jangkauan Konten Turun, Ismail Ingatkan Pengguna Tak Asal Percaya Chatbot
Jangkauan Konten Turun, Ismail Ingatkan Pengguna Tak Asal Percaya Chatbot
Keterangan Foto: Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi. Ket : Ist/Facebook. TD.YS
JAKARTA, Tabloid Diksi - Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan, konten yang diblokir tidak lagi dapat diakses pengguna. Sementara itu, konten yang mengalami penurunan jangkauan tetap tersedia, tetapi lebih jarang muncul di hadapan pengguna.
“Banyak keluhan soal karhutla itu sebenarnya masuk kategori kedua, dan penyebabnya bisa berbeda,” katanya.
- Baca juga:
Menurut Ismail, transparansi algoritma platform digital masih perlu ditingkatkan. Sejumlah platform memang telah membuka informasi mengenai aturan komunitas dan laporan berdasarkan negara. Namun, mekanisme yang digunakan untuk menentukan peningkatan atau penurunan jangkauan suatu konten belum dijelaskan secara terperinci.
“Jujur, transparansi algoritma platform baru setengah. Aturan komunitas dan laporan per negara memang dibuka. Tapi bagaimana sebuah konten dinaikkan atau diturunkan jangkauannya, itu tidak pernah dijelaskan rinci. Pengguna juga umumnya tidak diberi tahu kalau jangkauannya dibatasi,” paparnya.
Ia juga menyoroti kebijakan Instagram dan Threads yang secara default membatasi rekomendasi konten bertema politik. Kebijakan tersebut berpotensi membuat unggahan mengenai demonstrasi atau kebijakan publik memiliki jangkauan terbatas, meskipun konten tersebut tidak diblokir.
Di sisi lain, Ismail menilai pemerintah juga perlu menyampaikan secara terbuka dasar hukum setiap tindakan penurunan konten atau pemutusan akses terhadap konten digital.
“Karena itu, putusan MK yang mewajibkan notifikasi beserta alasan hukum sebelum pemutusan akses konten menurut saya langkah yang baik. Transparansi harus datang dari dua arah, platform dan pemerintah,” ujarnya.
Tiga hal yang perlu diperiksa kreator konten
Untuk mengetahui penyebab unggahan yang tiba-tiba hilang atau mengalami penurunan jangkauan, Ismail menyarankan kreator konten memeriksa tiga hal.
Pertama, memastikan apakah terdapat pemberitahuan atau label yang menunjukkan pembatasan konten berdasarkan permintaan hukum.
Kedua, memeriksa fitur Account Status di Instagram untuk mengetahui kondisi akun serta kemungkinan adanya pembatasan terhadap konten atau fitur tertentu.
Ketiga, mengevaluasi apakah unggahan membahas topik bernuansa politik yang berpotensi memengaruhi kelayakannya untuk direkomendasikan kepada pengguna lain.
Ismail menegaskan, ketiga langkah tersebut penting untuk membantu kreator memahami penyebab masalah. Pasalnya, konten yang hilang dan konten yang mengalami penurunan jangkauan dapat dipengaruhi oleh mekanisme yang berbeda sehingga penanganannya pun tidak sama.
“Penyebabnya berbeda-beda, jadi cara menanganinya juga berbeda. Dan yang paling penting, jangan langsung menelan jawaban chatbot sebagai kebenaran,” pungkasnya. ***




Komentar Via Facebook :