https://tabloiddiksi.com

  • Nasional
  • Daerah
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Indeks

  • Kode Pers
  • Info Iklan
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://tabloiddiksi.com

Redaksi     Pedoman     Tentang     Info Iklan     Kode Pers    

https://tabloiddiksi.com

  • Beranda
  • ";
  • Nasional
  • Daerah
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Indeks

Nasional

Daerah

Peristiwa

Hukrim

Ekbis

Politik

Todays

•   Pemuda Pelopor Riau Soroti Pajak Parkir Rp16,4 Miliar, Kejati Didesak Periksa Bapenda dan PT SPI •   Jumat Berkah, Grand Dragon dan New Paragon Salurkan Sembako ke Dua Panti Asuhan •   DPR RI Rampungkan 28 UU, RUU Perampasan Aset Jadi Sorotan •   Presiden Prabowo : Kebut Infrastruktur Desa, Ribuan Jembatan dan Titik Air Dibangun
Home › Sorotan › Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 
Sorotan
Pekanbaru

Petani Pekanbaru Tunggu Kiprah Pemerintah

Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 

Senin, 20 November 2023 | 23:07 WIB,  
Penulis : Rahmat Hidayat
Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 

Keterangan Foto:

PEKANBARU, Tabloid Diksi - Konotasi daerah bukan penghasil komoditas pangan lekat dengan Kota Pekanbaru, hal itu terlihat dari banyaknya bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah, mulai dari buah-buahan, cabai, beras, hingga sayuran.

Pertanyaan pun muncul menyeruak, benarkah petani di Pekanbaru tak mampu bersaing menghasilkan komoditas pangan?

    Baca juga:
  • Bonus PON Belum Dibayar Penuh, Atlet Riau Kecewa: Janji Tinggal Janji

  • Malaria Tak Kunjung Hilang, Warga Sinaboi Desak Pemerintah Bertindak Nyata

  • Eks Kadis PUPR-PKPP Riau dan Rekanan Kompak Dihukum 2 Tahun, KPK Masih Pikir-pikir

''Kita di Pekanbaru ini sebenarnya banyak mempunyai petani. Bahkan banyak juga komoditas pertanian yang dihasilkan,'' kata Sembiring petani mandiri di Jalan Parit Indah, Pekanbaru.

Dia menyanggah anggapan Pekanbaru tidak mampu menjadi penghasil komoditas pertanian, pandangan itu dinilai tidak berdasar. 

''Kami jamin, kalau di Pekanbaru ini, beberapa komoditas itu bisa memproduksi lebih. Karena faktanya, seperti sayuran dan buah itu, banyak juga yang dihasilkan oleh petani lokal,'' menurut pria berstatus pensiunan itu.

Sembiring mencontohkan, sejumlah komoditas sayuran seperti kacang panjang, terung, timun, jagung, dan komoditas lain banyak dihasilkan mereka.

''Yang menjadi permasalahan, jelas Sembiring adalah, bahwa komoditas yang ditanam itu kesulitan menembus pasar yang mampu harusnya diserap oleh masyarakat lokal di Pekanbaru,'' lanjut Sembiring.

Sambil tunjukkan segenggam kacang panjang yang baru dipanennya, dia sebutkan kalau produksinya banyak. Bahkan, untuk sekali penanaman saja bisa panen sampai 25 kali.

''Ya, seperti ini, kita panen per dua hari sekali. Sekali panen lumayan, bisa sampai 100 hingga 200 kilogram. Tapi harganya tak sebanding dengan lelah yang kami terima. Belum lagi biaya pupuk yang sangat mahal,'' keluhnya.

Sembiring mengaku, harga per 1 kilogram kacang panjang dirinya hanya bisa menjual seharga Rp3.500 s/d Rp4.000.

''Dengan harga segitu, jangankan pupuk, lelah kita menanam pun tak terbayar,'' katanya sembari menngerutkan kening.

Dia menyebutkan, pada dasarnya banyak sekali petani mandiri di Pekanbaru, menggarap lahan dengan beragam komoditas yang sebenarnya masuk juga ke pasaran.

''Bisa saja, petani seperti kami ini menanam cabai misalnya, apalagi dengan kondisi harga yang relatif mahal saat ini. Namun, dia juga menjelaskan, kalau tantangan terberat bagi petani adalah bukan  pada cara menanamnya,'' jelasnya melanjutkan.

''Kalau menanam cabai itu, memang sedikit lebih rumit, karena butuh perawatan yang baik agar hasilnya juga bagus. Hanya saja, sering kali, ketika petani sudah menanam, sudah produksi, yang terjadi adalah, harga cabai itu jatuh, itu yang membuat banyak petani menjerit,'' ungkapnya.

Kalau saja, dengan menanam cabai itu petani bisa untung, pastinya petani akan berlomba-lomba menanam.

''Kenapa petani tidak banyak menanam, ya, salah satu faktornya adalah harga,'' ungkap dia.

Karena itulah, Sembiring mengungkapkan yang diharapkan oleh petani sebenarnya adalah jaminan dari pemerintah terhadap harga komoditas yang mereka tanam.

Hal sama dibenarkan petani lain Awal. Dari apa yang dirasakannya bahwa tak jarang harga rendah dari komoditas pertanian yang ditanam membunuh semangat para petani.

''Ya, bayangkan saja, kalau kita tanam, rugi sekali atau dua kali itu biasa, sudah sering. Tapi kalau ruginya sudah berkali-kali, dan itu disebabkan oleh harga, pastinya tak ada yang mau hidup jadi petani, karena selalu merugi,'' kata Awal.

''Kita petani ini kan tidak mungkin memikirkan pasar. Karena memastikan bisa panen saja itu sudah cukup. Pasar itu hendaknya diatur oleh pemerintah, sehingga, kendala soal harga dan pasokan berlebih tidak sampai menyebabkan petani merugi,'' ujarnya.

Itulah, sebut Awal, hal terpenting yang perlu diatur oleh pemerintah adalah bagaimana petani lokal menjadi tuan di negeri sendiri.

Editor : R Hidayat

TOPIK TERKAIT

Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Nasional

    Kajati Riau Ikuti Kunjungan Kerja Virtual Jaksa Agung RI

    Senin, 20 Nov 2023 | 20:53 WIB
  • Nasional

    Jaksa Agung Lakukan Kunjungan Kerja Virtual

    Senin, 20 Nov 2023 | 19:49 WIB
  • Peristiwa

    Sukiman Lantik Refli Nasution Ketua DPC IKANAS Rohul  

    Senin, 20 Nov 2023 | 17:46 WIB
  • Peristiwa

    Pengajian Rutin Kejati Riau Hadirkan Ulama Terkemuka 

    Senin, 20 Nov 2023 | 14:19 WIB
  • Hukum

    Gudang Penimbunan Minyak di Depan Swalayan O2 Kebal Hukum, Puluhan Ton Solar Subsidi di Selewengkan

    Senin, 20 Nov 2023 | 13:11 WIB

Terpopuler

  • #1

    DJ Competition Megamix Riau Semakin Meriah, Berbagai Daerah Ikut Kompetisi

    Rabu, 12 Agu 2026 - 17:43 WIB
  • #2

    Riau Hapus Denda Pajak Kendaraan, Tunggakan Bertahun-tahun Kini Bisa Dibereskan

    Selasa, 11 Agu 2026 - 00:26 WIB
  • #3

    Menyala ! Tim Gabungan Polda, Polres dan Polsek Singingi Kembali Gelar Operasi PETI 

    Selasa, 04 Agu 2026 - 20:02 WIB
  • #4

    Sambut HUT RI ke-81, Polisi Bagikan Bendera Merah Putih untuk Kobarkan Nasionalisme Warga Bukitraya

    Selasa, 04 Agu 2026 - 15:33 WIB
  • #5

    Kapolsek Batu Hampar Pimpin Langsung Penanaman Jagung 2 Hektare

    Kamis, 30 Jul 2026 - 12:33 WIB
  • #6

    TPK Desa Alam Panjang Turun ke Sekolah Gaungkan GATI, Dorong Peran Ayah dalam Mendidik Anak

    Rabu, 05 Agu 2026 - 15:43 WIB
  • #7

    Wamenkeu Juda Agung Dorong Pasar Keuangan RI Makin Dalam untuk Perkuat Pembiayaan Ekonomi

    Senin, 10 Agu 2026 - 20:04 WIB
  • #8

    Pengedar Sabu di Tambang Dibekuk Polisi, 10 Paket Siap Edar Disita

    Jumat, 31 Jul 2026 - 12:06 WIB
  • #9

    HUT ke-69 Riau, Pemprov Anugerahi 10 Tokoh Pejuang Daerah

    Minggu, 09 Agu 2026 - 22:56 WIB

HUKRIM

  • Pria di Pekanbaru Edarkan 4 Vape Getar, Dijanjikan Upah Rp50 Ribu

    Pria di Pekanbaru Edarkan 4 Vape Getar, Dijanjikan Upah Rp50 Ribu

    Jumat, 14 Agu 2026 | 14:28 WIB
  • Warga Laporkan Sungai Subayang Keruh, Polisi Temukan Rakit Tambang Emas Ilegal

    Warga Laporkan Sungai Subayang Keruh, Polisi Temukan Rakit Tambang Emas Ilegal

    Jumat, 14 Agu 2026 | 13:51 WIB
  • Pengedar Sabu Diciduk di Kebun Sawit Bengkalis, Polisi Kejar Pemasok

    Pengedar Sabu Diciduk di Kebun Sawit Bengkalis, Polisi Kejar Pemasok

    Kamis, 13 Agu 2026 | 22:14 WIB
Bidnen SH

Ekbis

  • Sensus Ekonomi 2026 di Riau Hadapi Kendala, Petugas Masih Ditolak

    Sensus Ekonomi 2026 di Riau Hadapi Kendala, Petugas Masih Ditolak

    Jumat, 14 Agu 2026 | 16:50 WIB
  • Ekonomi Riau Tumbuh 4,75 Persen, DPRD Soroti Peran Pemprov

    Ekonomi Riau Tumbuh 4,75 Persen, DPRD Soroti Peran Pemprov

    Jumat, 14 Agu 2026 | 05:55 WIB
  • Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS, Pasar Masih Dibayangi Sentimen Global

    Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS, Pasar Masih Dibayangi Sentimen Global

    Kamis, 13 Agu 2026 | 15:03 WIB
    sudutkotanews.com



  • Kode Pers     Info Iklan     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    tabloidDIKSI.com