https://tabloiddiksi.com

  • Nasional
  • Daerah
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Indeks

  • Kode Pers
  • Info Iklan
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://tabloiddiksi.com

Redaksi     Pedoman     Tentang     Info Iklan     Kode Pers    

https://tabloiddiksi.com

  • Beranda
  • ";
  • Nasional
  • Daerah
  • Peristiwa
  • Hukrim
  • Ekbis
  • Politik
  • Indeks

Nasional

Daerah

Peristiwa

Hukrim

Ekbis

Politik

Todays

•   DPR Soroti Perlakuan Khusus bagi Warga Binaan di Lapas Cibinong •   Gerindra Dukung Muhammad Rahul Maju Pilgub Riau 2029 •   Pansus: Desain UMKM Bisa Jadi Aset untuk Akses Pembiayaan •   Swasembada Susu Dikebut, DPR Soroti Potensi Sapi Gratis
Home › Sorotan › Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 
Sorotan
Pekanbaru

Petani Pekanbaru Tunggu Kiprah Pemerintah

Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 

Senin, 20 November 2023 | 23:07 WIB,  
Penulis : Rahmat Hidayat
Harga Pupuk Melejit Petani Menjerit 

Keterangan Foto:

PEKANBARU, Tabloid Diksi - Konotasi daerah bukan penghasil komoditas pangan lekat dengan Kota Pekanbaru, hal itu terlihat dari banyaknya bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah, mulai dari buah-buahan, cabai, beras, hingga sayuran.

Pertanyaan pun muncul menyeruak, benarkah petani di Pekanbaru tak mampu bersaing menghasilkan komoditas pangan?

    Baca juga:
  • Bonus PON Belum Dibayar Penuh, Atlet Riau Kecewa: Janji Tinggal Janji

  • Malaria Tak Kunjung Hilang, Warga Sinaboi Desak Pemerintah Bertindak Nyata

  • Eks Kadis PUPR-PKPP Riau dan Rekanan Kompak Dihukum 2 Tahun, KPK Masih Pikir-pikir

''Kita di Pekanbaru ini sebenarnya banyak mempunyai petani. Bahkan banyak juga komoditas pertanian yang dihasilkan,'' kata Sembiring petani mandiri di Jalan Parit Indah, Pekanbaru.

Dia menyanggah anggapan Pekanbaru tidak mampu menjadi penghasil komoditas pertanian, pandangan itu dinilai tidak berdasar. 

''Kami jamin, kalau di Pekanbaru ini, beberapa komoditas itu bisa memproduksi lebih. Karena faktanya, seperti sayuran dan buah itu, banyak juga yang dihasilkan oleh petani lokal,'' menurut pria berstatus pensiunan itu.

Sembiring mencontohkan, sejumlah komoditas sayuran seperti kacang panjang, terung, timun, jagung, dan komoditas lain banyak dihasilkan mereka.

''Yang menjadi permasalahan, jelas Sembiring adalah, bahwa komoditas yang ditanam itu kesulitan menembus pasar yang mampu harusnya diserap oleh masyarakat lokal di Pekanbaru,'' lanjut Sembiring.

Sambil tunjukkan segenggam kacang panjang yang baru dipanennya, dia sebutkan kalau produksinya banyak. Bahkan, untuk sekali penanaman saja bisa panen sampai 25 kali.

''Ya, seperti ini, kita panen per dua hari sekali. Sekali panen lumayan, bisa sampai 100 hingga 200 kilogram. Tapi harganya tak sebanding dengan lelah yang kami terima. Belum lagi biaya pupuk yang sangat mahal,'' keluhnya.

Sembiring mengaku, harga per 1 kilogram kacang panjang dirinya hanya bisa menjual seharga Rp3.500 s/d Rp4.000.

''Dengan harga segitu, jangankan pupuk, lelah kita menanam pun tak terbayar,'' katanya sembari menngerutkan kening.

Dia menyebutkan, pada dasarnya banyak sekali petani mandiri di Pekanbaru, menggarap lahan dengan beragam komoditas yang sebenarnya masuk juga ke pasaran.

''Bisa saja, petani seperti kami ini menanam cabai misalnya, apalagi dengan kondisi harga yang relatif mahal saat ini. Namun, dia juga menjelaskan, kalau tantangan terberat bagi petani adalah bukan  pada cara menanamnya,'' jelasnya melanjutkan.

''Kalau menanam cabai itu, memang sedikit lebih rumit, karena butuh perawatan yang baik agar hasilnya juga bagus. Hanya saja, sering kali, ketika petani sudah menanam, sudah produksi, yang terjadi adalah, harga cabai itu jatuh, itu yang membuat banyak petani menjerit,'' ungkapnya.

Kalau saja, dengan menanam cabai itu petani bisa untung, pastinya petani akan berlomba-lomba menanam.

''Kenapa petani tidak banyak menanam, ya, salah satu faktornya adalah harga,'' ungkap dia.

Karena itulah, Sembiring mengungkapkan yang diharapkan oleh petani sebenarnya adalah jaminan dari pemerintah terhadap harga komoditas yang mereka tanam.

Hal sama dibenarkan petani lain Awal. Dari apa yang dirasakannya bahwa tak jarang harga rendah dari komoditas pertanian yang ditanam membunuh semangat para petani.

''Ya, bayangkan saja, kalau kita tanam, rugi sekali atau dua kali itu biasa, sudah sering. Tapi kalau ruginya sudah berkali-kali, dan itu disebabkan oleh harga, pastinya tak ada yang mau hidup jadi petani, karena selalu merugi,'' kata Awal.

''Kita petani ini kan tidak mungkin memikirkan pasar. Karena memastikan bisa panen saja itu sudah cukup. Pasar itu hendaknya diatur oleh pemerintah, sehingga, kendala soal harga dan pasokan berlebih tidak sampai menyebabkan petani merugi,'' ujarnya.

Itulah, sebut Awal, hal terpenting yang perlu diatur oleh pemerintah adalah bagaimana petani lokal menjadi tuan di negeri sendiri.

Editor : R Hidayat

TOPIK TERKAIT

Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Nasional

    Kajati Riau Ikuti Kunjungan Kerja Virtual Jaksa Agung RI

    Senin, 20 Nov 2023 | 20:53 WIB
  • Nasional

    Jaksa Agung Lakukan Kunjungan Kerja Virtual

    Senin, 20 Nov 2023 | 19:49 WIB
  • Peristiwa

    Sukiman Lantik Refli Nasution Ketua DPC IKANAS Rohul  

    Senin, 20 Nov 2023 | 17:46 WIB
  • Peristiwa

    Pengajian Rutin Kejati Riau Hadirkan Ulama Terkemuka 

    Senin, 20 Nov 2023 | 14:19 WIB
  • Hukum

    Gudang Penimbunan Minyak di Depan Swalayan O2 Kebal Hukum, Puluhan Ton Solar Subsidi di Selewengkan

    Senin, 20 Nov 2023 | 13:11 WIB

Terpopuler

  • #1

    Kasus Dugaan Persetubuhan Anak di Siak Kecil, Polisi Kejar Pelaku hingga Jambi

    Rabu, 23 Sep 2026 - 11:30 WIB
  • #2

    Pria 21 Tahun Ditemukan Meninggal Tergantung di Ruko Apotek Rama Farma Kampar

    Kamis, 24 Sep 2026 - 15:54 WIB
  • #3

    Sertijab di Mapolda Riau, AKBP Fahrian Tinggalkan Bengkalis dan AKBP Eko Rubiyanto Jadi Kapolres Baru

    Sabtu, 26 Sep 2026 - 13:48 WIB
  • #4

    Desil Warga Berubah, Pemko Pekanbaru Sediakan Posko Pengaduan di Setiap Kelurahan

    Sabtu, 26 Sep 2026 - 16:20 WIB
  • #5

    Satgas PKH Tegaskan Penertiban Hutan Bukan Anti-Usaha, 6 Personel Disiapkan turun ke Kampar

    Rabu, 23 Sep 2026 - 18:33 WIB
  • #6

    Pemerintah Tuntaskan Utang Obligasi BLBI Rp218,3 Triliun

    Rabu, 23 Sep 2026 - 18:48 WIB
  • #7

    Perubahan APBD Riau 2026 Diajukan, Belanja Capai Rp8,378 Triliun dan Pemprov Bentuk Satgas OPAD

    Rabu, 23 Sep 2026 - 20:11 WIB
  • #8

    Dilepas Polsek Binawidya, 200 Ojol Domte Community Gas ke Air Tiris Rayakan Anniversary ke-5

    Minggu, 20 Sep 2026 - 09:24 WIB
  • #9

    SPPD Fiktif DPRD Pekanbaru Tinggal Tunggu Kerugian Negara, Bidnen: Kajari Baru Harus Tunjukkan Taring

    Kamis, 17 Sep 2026 - 11:08 WIB

HUKRIM

  • Sabu 17,57 Gram dan 3 Pil Happy Five Disita dari Rumah di Kamter, 4 Pria Diamankan

    Sabu 17,57 Gram dan 3 Pil Happy Five Disita dari Rumah di Kamter, 4 Pria Diamankan

    Minggu, 27 Sep 2026 | 14:01 WIB
  • Polisi Geledah Rumah Warga Koto Damai, 7 Paket Sabu Ditemukan di Atas Lemari

    Polisi Geledah Rumah Warga Koto Damai, 7 Paket Sabu Ditemukan di Atas Lemari

    Minggu, 27 Sep 2026 | 13:34 WIB
  • Belum Sempat Tawuran, Belasan Remaja di Rumbai Keburu Diciduk Tim RAGA

    Belum Sempat Tawuran, Belasan Remaja di Rumbai Keburu Diciduk Tim RAGA

    Sabtu, 26 Sep 2026 | 16:53 WIB
Bidnen SH

Ekbis

  • HPE dan Harga Referensi Emas Naik, Berlaku 1-14 September 2026

    HPE dan Harga Referensi Emas Naik, Berlaku 1-14 September 2026

    Senin, 31 Agu 2026 | 22:40 WIB
  • BNI Bawa Inovasi KPR Cermat ke Danantara Housing Expo 2026

    BNI Bawa Inovasi KPR Cermat ke Danantara Housing Expo 2026

    Minggu, 30 Agu 2026 | 21:03 WIB
  • Menkomdigi Tegaskan Operator Wajib Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

    Menkomdigi Tegaskan Operator Wajib Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

    Sabtu, 29 Agu 2026 | 19:16 WIB
    sudutkotanews.com



  • Kode Pers     Info Iklan     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    tabloidDIKSI.com