Home › Ekonomi › The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp18.129 per Dolar AS
The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp18.129 per Dolar AS
Keterangan Foto: Ilustrasi
JAKARTA, Tabloid Diksi – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (29/10/2026). Penguatan ini terjadi setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp18.129 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 55 poin atau sekitar 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.184 per dolar AS.
- Baca juga:
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 persen hingga 4 persen dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (28/10/2026) waktu setempat.
Meski rupiah menguat pada awal perdagangan, tekanan terhadap mata uang domestik masih membayangi pergerakannya, baik dari faktor eksternal maupun kondisi pasar dalam negeri.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah merupakan respons pasar terhadap keputusan The Fed yang sebelumnya telah diperkirakan pelaku pasar.
"Rupiah masih tertekan luar dalam, selain dari dollar, juga harga minyak dunia dan net sell asing di pasar ekuitas," kata Lukman dilansir dari Kompas.com, Rabu (28/10/2026).
Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.250 per dolar AS dalam perdagangan tersebut.
Menurutnya, kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia mulai mereda. Namun, tingginya harga komoditas energi, terutama minyak dan batu bara, masih perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi ketahanan fiskal nasional.
Selain perkembangan ekonomi domestik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Perhatian terutama tertuju pada kemungkinan perubahan suku bunga acuan serta sinyal kebijakan yang akan disampaikan bank sentral AS tersebut.
Lukman menilai pasar cenderung memperkirakan The Fed akan memberikan sinyal yang mengarah pada kebijakan moneter ketat atau hawkish.
Meski demikian, pengaruh keputusan The Fed terhadap pergerakan rupiah akan bergantung pada kesesuaian sinyal tersebut dengan ekspektasi pasar.
"Apabila tanpa ada kejutan, biasanya pengaruhnya sudah hilang karena sudah diantisipasi, yang dinantikan adalah sinyal kenaikan ke depannya," ujar Lukman.
Dengan demikian, meskipun rupiah mencatatkan penguatan pada awal perdagangan, pergerakannya masih akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS, harga energi dunia, serta arus modal asing di pasar keuangan Indonesia.





Komentar Via Facebook :