Home › Ekonomi › Wamenko Sebut Inflasi Indonesia Lebih Dipengaruhi Kenaikan Biaya dan Pasokan
Wamenko Sebut Inflasi Indonesia Lebih Dipengaruhi Kenaikan Biaya dan Pasokan
Keterangan Foto: Wamenko, Dradjad Hari Wibowo. TD/YS
JAKARTA, Tabloid Diksi – Tekanan inflasi di Indonesia dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh biaya produksi dan keterbatasan pasokan barang dibandingkan lonjakan permintaan masyarakat. Kondisi ini membuat pemerintah perlu memperkuat ketersediaan barang agar kenaikan harga dapat dikendalikan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan, karakteristik inflasi di Indonesia cenderung mengarah pada cost-push inflation, yakni kenaikan harga yang dipicu meningkatnya biaya atau terganggunya pasokan.
- Baca juga:
Menurut Dradjad, daya beli masyarakat yang masih terjaga tidak selalu menjamin stabilitas harga apabila ketersediaan barang belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Daya beli bagus, suplainya enggak cukup, ya otomatis akhirnya terjadi inflasi,” ujarnya di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).
Ia mencontohkan, ketergantungan terhadap produk impor, termasuk barang elektronik, juga dapat memengaruhi pergerakan harga di dalam negeri.
Untuk memperkuat pengendalian inflasi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan berkoordinasi dengan BPS serta kementerian dan lembaga terkait. Langkah ini ditujukan untuk menyelaraskan data dan memperbaiki pencatatan aktivitas ekonomi agar kebijakan pemerintah dapat disusun berdasarkan informasi yang lebih akurat.
Dradjad mengatakan, pembenahan data tersebut juga diperlukan untuk memastikan berbagai aktivitas ekonomi tercatat secara lebih menyeluruh. Pemerintah turut mencermati perkembangan ekspor neto sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Secara bulanan, inflasi berada di angka 0,30 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama inflasi bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,88 persen dengan kontribusi sebesar 0,26 persen.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,14 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor yang menekan inflasi pada kelompok tersebut.
BPS juga mencatat inflasi inti sebesar 0,10 persen dengan andil 0,06 persen. Biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi termasuk komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi inti.
Adapun kelompok harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi relatif rendah, mendekati nol. Harga bensin memberikan kontribusi terhadap inflasi, sedangkan tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor penekan harga.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan daya beli masyarakat, tetapi juga membutuhkan upaya menjaga kelancaran pasokan, kestabilan biaya produksi, serta ketepatan kebijakan ekonomi.






Komentar Via Facebook :