Home › Politik › RU III Plaju Terkendala Crude Oil, Komisi XII DPR Dorong Pengembangan Kilang B50-E20
RU III Plaju Terkendala Crude Oil, Komisi XII DPR Dorong Pengembangan Kilang B50-E20
Keterangan Foto: Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha. Foto : Humas DPR RI. TD.YS
PALEMBANG, Tabloid Diksi - Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha mendorong optimalisasi Refinery Unit (RU) III Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, untuk mendukung pengolahan biodiesel B50 dan etanol E20. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan bahan bakar minyak (BBM) wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dari daerah lain.
Dorongan itu disampaikan Syarif saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke RU III Plaju, Jumat (4/9/2026).
- Baca juga:
Menurut Syarif, RU III Plaju memiliki kapasitas produksi yang besar. Namun, pemanfaatannya saat ini belum optimal karena masih terkendala keterbatasan pasokan minyak mentah atau crude oil.
“Kilang ini salah satu penyokong BBM yang ada di Indonesia, tetapi saat ini belum dimaksimalkan karena kekurangan pasokan crude oil. Kapasitas produksinya ada, tetapi baru diupayakan sekitar 20 persen,” ujar Syarif.
Syarif menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Terlebih, RU III Plaju memiliki kemampuan mengolah B50 dan E20 serta menghasilkan berbagai produk turunan kimia.
Potensi tersebut, kata legislator dari daerah pemilihan Jambi itu, seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal karena wilayah Sumbagsel memiliki ketersediaan bahan baku energi berbasis nabati yang cukup besar, seperti kelapa sawit, tebu, dan ubi kayu.
“Kalau ini dimaksimalkan, Sumbagsel tidak lagi tergantung dari daerah lain. Jadi, dia akan mengolah sendiri,” katanya.
Komisi XII DPR RI, lanjut Syarif, akan mendorong usulan optimalisasi RU III Plaju kepada Kementerian ESDM dan Pertamina Holding. Ia berharap RU III Plaju dapat menjadi salah satu kilang yang masuk dalam agenda pengembangan energi berbasis biofuel yang menjadi prioritas pemerintah.
“Kita minta RU III Plaju ini menjadi salah satu dari 30 yang disampaikan Presiden nantinya,” tegasnya.
Selain persoalan optimalisasi kilang, Syarif juga meminta pemerintah mempertimbangkan penambahan kuota solar, khususnya di daerah yang menjadi sentra aktivitas pertambangan.
Menurutnya, tingginya aktivitas pertambangan turut meningkatkan kebutuhan solar sehingga di sejumlah wilayah masih terjadi antrean BBM.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi XII DPR RI turut menyoroti aspek pengelolaan lingkungan PT Bukit Asam (PTBA), terutama persoalan air lindi di area stockpile yang dinilai berpotensi mencemari tanah maupun aliran sungai.
“Kami akan menindaklanjuti persoalan tersebut dan membuka kemungkinan melakukan inspeksi langsung ke tambang PTBA di Tanjung Enim pada masa persidangan berikutnya,” pungkas Syarif. ***






Komentar Via Facebook :