Home › Artikel › Jabatan Jadi Ladang, Bukan Tanggung Jawab
Jabatan Jadi Ladang, Bukan Tanggung Jawab
Keterangan Foto: Ilustrasi
PEKANBARU, Tabloid Diksi - Di balik meja besar berhias map-map tebal yang jarang dibuka, duduk seorang kepala dinas yang seharusnya menjadi ujung tombak pelayanan publik. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya: dinas berjalan seperti kapal tanpa nahkoda, karena sang kepala sibuk menavigasi peta keuntungan pribadi.
Bukan rahasia lagi, banyak yang bertanya-tanya: apa sebenarnya yang sudah dikerjakan? Tapi di ruang-ruang rapat, tak ada arah, tak ada target. Yang ada hanyalah basa-basi birokrasi, rencana yang menguap bersama asap rokok, dan mata yang lebih tertarik menghitung anggaran daripada menyusun program.
- Baca juga:
Sosok ini bukanlah pemimpin yang memimpin. Ia lebih seperti penjaga zona nyaman—tempat di mana tanggung jawab bisa ditunda, dan kerja keras bisa digantikan oleh lobi dan relasi. Ia tahu cara mempertahankan jabatan, tapi lupa bagaimana memanfaatkannya untuk kepentingan publik.
Setiap tahun berjalan tanpa visi. Evaluasi tak pernah jujur. Yang penting laporan tampak rapi, walau realita di lapangan berbicara lain. Sementara itu, kebutuhan masyarakat menumpuk, pelayanan publik tersendat, dan program hanya menjadi proyek foto untuk media sosial.
Yang lebih menyakitkan, banyak pegawai berdedikasi justru tersingkir karena tak mau ikut arus permainan kotor. Sementara sang kepala dinas tetap nyaman duduk di kursi empuk, lebih sibuk membagi kue proyek daripada menyusun perubahan.
Dalam sebuah sistem yang seharusnya membangun, keberadaan sosok seperti ini adalah penyakit. Ia tidak hanya menghambat, tapi juga merusak. Ia tidak bekerja untuk rakyat, tapi untuk dirinya sendiri. Jabatan baginya bukan amanah, tapi alat.
Dan selama ia masih bertahan, satu hal yang pasti: perubahan hanya akan jadi slogan. Karena bagaimana mungkin kemajuan bisa lahir dari pemimpin yang tak ingin bergerak?






Komentar Via Facebook :